Kamis, 20 Juni 2013

Pasar Baru Magetan, Yang Tidak Baru ( Lagi )


Pasar Baru Kota Magetan berada di Jl. Pasar Baru, atau Jl. Panglima Sudirman . Pasar baru Kota Magetan di bangun sekitar tahun '93 an. Pasar Baru Kota Magetan ini Berlantai 2.
Pasar Baru Kota Magetan,Lantai satu berisi pedagang makanan, pakaian,pernak pernik acecoris, mainan anak-anak, elektronik, alat tulis dan perkantoran sampai dengan perkakas bangunan dan pertanian.
Pasar Baru Kota Magetan, Lantai dua, berisi pedagang sandal, sepatu, sabuk, pakaian, dan permainan anak-anak.
Bagi teman-teman yang belum pernah ke Magetan tak ada salahnya mengunjungi Pasar Baru Kota magetan. Apabila anda traveling ke telaga sarangan dari arah Madiun anda akan melewati Pasar Baru Kota Magetan ini, silahkan mampir membeli oleh-oleh untuk keluarga tersayang dirumah.


Sabtu, 30 Maret 2013

Sejarah Industri Kerajinan Kulit Magetan

Sudah sejak lama Kabupaten Magetan dikenal sebagai penghasil kerajinan kulit. Kerajinan Kulit Magetan sudah terkenal memiliki kualitas dan kaewetan yang sangat baik namun dengan harga yang relatif lebih terjangkau jika dibandingkan produk kulit dari daerah lain. Dibalik maju dan berkembangnya industri kerajinan kulit di Magetan. Tahukan Anda Sejarah Industri Kerajinan Kulit Magetan
SEJARAH
Industri Kerajinan Kulit Magetan sudah melalui sejarah yang sangat panjang. Industri penyamakan kulit di Kabupaten Magetan sudah ada dan berlangsung sejak tahun 1830. Dipicu oleh berakhirnya Perang Diponegoro, para pengikut setia Pangeran Diponegoro yang tersebar di daerah timur sampai ke Magetan memulai usaha penyamakan kulit. Pada awalnya mereka membuat kerajinan kulit untuk perlengkapan berkuda dan berperang. Namun lama kelamaan usaha tersebut semakin berkembang, pernah sempat terhenti sementara pada masa pendudukan Jepang akan tetapi mulai bergeliat kembali setelah kemerdekaan Indonesia. 

Setelah masa kemerdekaan, para perajin kulit di Magetan mulai berani berkreasi dengan aneka model kerajinan kulit seperti Sepatu Kulit dan Sandal Kulit. Tercatat periode tahun 1950-1960 an adalah masa-masa keemasan Industri Kerajinan Kulit Magetan. Namun sangat disayangkan, pada tahun 1970-an industri kulit Magetan mengalami penurunan signifikan karena dipicu oleh semakin luasnya penggunaan barang berbahan dasar plastik serta kebijakan pemerintah pada saat itu yang memberi kebebasan ekspor kulit mentah seluas-luasnya. Hal ini berdampak pada industri kerajinan kulit dalam negeri yang semakin tidak berkembang.
DUKUNGAN PEMERINTAH
Seiring berjalanya waktu, pemerintah mencanangkan program REPELITA (Rencana Pembangunan Lima Tahun), mulai dibentuklah Departemen Perindustrian. Pemerintah mulai melakukan pembinaan untuk mengembangkan unit-unit usaha di daerah. Tidak terkecuali di Magetan, pemerintah mulai melakukan pembinaan dan pelatihan dasar untuk mengembangkan Industri Kerajinan Kulit Magetan. Pembinaan diberikan mulai dari ketrampilan dasar pembuatan kerajinan kulit dan pengembangan industri penyamakan kulit.

Pada awalnya kegiatan penyamakan kulit di Magetan masih tersebar di daerah-daerah dan belum terorganisir dengan baik. Oleh karena itu gubernur Jawa Timur pada saat itu meresmikan Lingkungan Industri Kulit (LIK) di Magetan. Sebagai wadah berkumpul para pengusaha penyamakan kulit di Magetan.



Dengan dibangunya Lingkungan Industri Kulit (LIK), secara berangsur-angsur para penyamak kulit yang tersebar di Magetan mulai memindahkan kegiatan usahanya ke dalam lingkungan LIK. Usaha pemerintah ini terbukti berhasil. Karena dengan dibangunya LIK maka akan mepermudah dala melakukan kegiatan pambinaan terhadap para perajin. Pemerintah mulai mendorong Industri Kulit Magetan dengan penerapan kegiatan industri berbasis teknologi. Sehingga Industri Kulit Magetan bisa menghasilkan produk kulit berkualitas tinggi dan mampu bersaing di pasar nasional.
JALAN SAWO
Seiring berjalanya waktu, Industri Kerajinan Kulit Magetan berpusat di Kelurahan Selosari Magetan. Para perajin kulit mendirikan toko di daerah Jalan Sawo MagetanSentra Kerajinan Kulit di Jalan Sawo mulai dirintis pada tahun 1960-an. Pemilihan Jalan Sawo Magetan berdasarkan lokasinya yang sangat strategis. Yaitu terletak di jalur yang dilalui kendaraan pariwisata yang hendak menuju ke objek wisata Telaga Sarangan. Telaga Sarangan adalah objek wisata unggulan Kabupaten Magetan. 




Industri Kulit di Jalan Sawo Magetan dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Para perajin sudah memiliki toko untuk memajang hasil kerajinan kulitnya sendiri. Terhitung pada tahun 2013 industri kerajinan kulit Jalan Sawo Magetan memiliki 14 Unit Usaha Kecil Menengah (UKM) dengan jumlah tenaga kerja mencapai 223 orang.



Perkembagan produksi kerajinan kulit Magetan juga diimbangi dengan perkembangan pemasaran produk. Saat ini kegiatan pemasaran produk kulit Magetan tidak hanya memenuhi permintaan lokal di pulau Jawa melainkan juga sudah merambah ke pasar regional meliputi pulau Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, kepulauan Nusa Tenggara, hingga ke Papua. Seiring dengan perkembangan teknologi, Sepatu Kulit Magetan mulai dipasarkan secara digital melalui internet. Hal ini semakin mendorong berkembangnya Industri Kerajinan Kulit Magetan. 


Minggu, 30 Januari 2011

Telaga Sarangan

Ada banyak objek wisata di sekitar kaki Gunung Lawu yang semuanya memiliki hawa sejuk khas pegunungan. Salah satunya adalah Telaga Sarangan yang merupakan objek wisata favorite yang terletak di kaki Gunung Lawu
Objek wisata ini menjadi tempat piknik favorite karna memiliki pemandangan dan suasana alam yang asik. Dikelilingi oleh bukit-bukit hijau yang memperindah pemandangan. Selain itu, di sekitar telaga juga banyak terdapat wahana wisata untuk mendukung kegiatan wisata disana. Meski secara administratif terletak di kabupaten Magetan, Jawa Timur, namun lokasi wisata ini lebih dekat dengan Tawangmangu di kabupaten Karanganyar di Jawa Tengah. Dari Tawangmangu jaraknya hanya sekitar 5 km, sedangkan dari kota Magetan jaraknya sekitar 16 km

Luas area telaga ini kira-kira 30 ha dengan kedalaman mencapai 28 m. Ada banyak cara yang bisa dilakukan pengunjung untuk menikmati keindahan telaga alami ini. Untuk menjelajahi isi telaga para pengunjung bisa menyewa perahu berkecepatan tinggi atau dengan perahu kayuh untuk yang lebih santai. Jika tidak ingin berurusan dengan air, kamu juga bisa menikmati keindahan sekitar telaga dengan berkeliling menaiki kuda yang banyak disewakan disana
Daerah di sekitar telaga ini telah dikembangkan menjadi sebuah tempat wisata unggulan. Tak heran kalau banyak sekali penginapan yang terdapat di sekitar sana. Jadi, tak perlu khawatir kalau ingin menginap di sekitar telaga. Telaga sarangan ini tak pernah sepi pengunjung. Apalagi saat hari libur. Begitu memasuki kawasan telaga kita akan langsung disambut oleh banyak pedagang souvenir yang menjajakan berbagai benda kerajinan dan juga sayur-sayuran serta buah-buahan yang tumbuh di daerah pegunungan

Selain bisa menikmati suasana telaga sambil berkeliling, salah satu cara lain untuk menikmati suasana disana adalah dengan duduk lesehan di warung makan sambil menikmati berbagai macam kuliner seperti sate kelinci dan kuliner lain khas Magetan
Ada sebuah cerita yang dipercaya sebagai latar belakang terbentuknya telaga alami ini. Konon, sebelum terbentuk telaga, daerah di sekitar telaga merupakan daratan subur. Jaman dulu, ada sepasang suami istri yang usianya sudah senja. Mereka hidup bahagia dengan bercocok tanam di sekitar hutan. Suatu hari sang kakek pergi ke hutan untuk menebang kayu. Setelah menemukan kayu yang hendak di tebang sang kakek melihat sebutir telur di dekat pohon tersebut. Ia akhirnya pulang kerumah dengan membawa telur tersebut dan tidak jadi menebang pohon

Sesampainya di rumah, telur tersebut dimasak oleh nenek dan disantap berdua dengan sang kakek. Setelah menyantap telur tersebut sang kakek kembali ke hutan untuk menenang pohon. Namun, tubuh sang kakeh tiba-tiba berubah menjadi panas dan ia terguling-guling di tanah. Tubuh sang kakeh akhirnya berubah menjadi naga
Hal serupa juga terjadi pada sang nenek. Ia merasakan panas di sekujur tubuhnya dan berniat untuk menyusul sang kakek ke hutan. Ia kaget melihat seeokor naga yang berguling-guling. Sampai kemudian sang nenek juga berubah bentuk menjadi seekor naga
Menurut cerita, gesekan kedua naga tersebut menghasilkan cekungan berukuran besar yang memancarkan sumber air air alami. Jadilah Telaga Sarangan yang juga dikenal dengan nama Telaga Pasir ini

Telaga Sarangan juga memiliki beberapa acara tahunan yang rutin diadakan oleh masyarakat setempat. Diantaranya adalah labuh sesaji pada Jumat Pon bulan Ruwah serta Ledug Sura 1 Muharram. Pada malam tahun baru di sekitar telaga juga rutin diadakan pesta kembang api

Jumat, 01 Januari 2010

Sejarah Berdirinya Magetan



Latar Belakang Sejarah Berdirinya Magetan

Dalam kehidupan social budaya, ternyata melalui tulisannya banyak para ahli sejarah menyebut-nyebut Magetan. Demikian pula dalam kenyataanya, di Magetan tidak sedikit dijumpai peninggalan-peninggalan pada jaman dahulu kala, misalnya di desa Kepolorejo Kecamatan Kota Magetan, di desa Cepoko Kecamatan Panekan. Di makam Sonokeling desa Kepolorejo Kecamatan Kota Magetan terdapat sebuah makam yang membujur kearah utara selatan. Batu nisan sebelah berukuran lebar 34 cm, tebal 26 cm, tinggi 66 cm yang bahannya terbuat dari batu andezit dimana bentuk tulisannya diperkirakan berasal dari sekitar abad 9. Di dukuh Sadon desa Cepoko kecamatan Panekan terdapat Kalamakara dengan reruntuhan batu lainnya yang bahannya juga dari batu andezit. Berdasarkan hal tersebut terdapat kemungkinan dipersiapkannya pendirian bangunan candi. Pada reruntuhan batu yang terletak dibawah makara terdapat tulisan yang tidak terbaca karena sudah rusak, dari bentuk tulisannya dapat diperkirakan bahwa peninggalan tersebut dari jaman Erlangga (Kediri). Reruntuhan tersebut oleh masyarakat sekitar dikenal dengan nama Dadung Awuk. Ditempat lain juga terdapat peninggalan-peninggalan yang lain seperti di puncak gunung Lawu wilayah kabupaten Magetan yaitu peninggalan yang berbentuk Pawon Sewu (candi pawon) atau punden berundak yang diperkirakan sebagai hasil budaya jaman Majapahit. Demikia juga di lereng gunung Lawu terdapat peninggalan candi Sukuh dan candi Ceto. Adanya peninggalan-peninggalan tersebut sesuai dengan perkembangan di akhir kerajaan Majapahit, dimana waktu itu banyak rakyat dan kalangan keraton yang meninggalkan pusat kerajaan dan pergi ke gunung-gunung dalam usaha mempertahankan kebudayaan dan agama Hindu termasuk gunung Lawu kabupaten Magetan.
Hal ini telah disebut pula dalam babad Demak antara lain sebagai berikut : bahwa pangeran Gugur putera Brawijaya Pamungkas yang oleh masyarakat Magetan disebut sunan Lawu, bermukim diwilayah gunung Lawu yang batasnya sebelah selatan Pacitan, sebelah timur bengawan Magetan dan sebelah utara bengawan (Solo, Ngawi, Bojonegoro).
Dalam babad Tanah Jawi terdapat bait-bait sebagai berikut :
Pupuh 3 :
Anging arine raneki
Sang dipati tan purun ngalihno
Dene patedan Sang Raji
Pandji sureng raneku
Duk sang nata aneng samawis
Mangkana Kartojudo
Ing raka tinuduh
Anggetjah mantjanegoro ponorogo, madiun lan saesragi
Kaduwang ka magetan
Pupuh 5 :
Saking nagari ing Surawesti
Wus sijaga sedja magut ing prang
Mring demang Kartojudone
Ing pranaraga ngumpul
Ka Magetan kaduwung sami
Tuwin ing Jagaraga
Pepak neng Madiun
Sampun ageng barisira
Sira demang Kartojudo budal saking
Caruban saha bala
Pupuh 8 :
Sira demang Kartojudo aglis
Budal saking Madiun negara
Mring Jagaraga kersane
Dene ingkang tinuduh
Mring kaduwang mantri kekalih
Ngabehi Tambakbojo
Lawan Wirantanu
Angirid prajurit samas
Mantri kalih ing kaduwang sampun prapti
Mandek barisira
Pupuh 9 :
Nahan gantija kawuwusa
Sri Narendra gja wagunen ing galih
Denja mijarsa warta
........................................................
Pupuh 10 :
Pambalike wong Mantjanegoro
Geger tepis iring Kartosuro
.................................................
Dari tulisan tersebut diatas yang teruntai dalam bentuk tembang dandang gulo dapat diambil kesimpulan bahwa :
Pertama : Magetan benar-benar merupakan daerah Mancanegoro Mataram (daerah takluk kerajaan Mataram)
Kedua     : Magetan adalah tempat berkumpulnya prajurit Mancanegoro untuk menyerang pusat pemerintahan Mataram yang pada saat itu berada dibawah pengaruh kekuasaan kompeni belanda
Ketiga : Kekacauan terus menerus yang dialami oleh pusat pemerintahan
Kerajaan Mataram yang lazim disebut sebagai perang mahkota (didalangi oleh kompeni belanda) maka Magetan sebagai daerah mancanegoro mendapat pengaruh langsung dari perang mahkota itu. Akibat perang tersebut banyak leluhur Mataram yang wafat dan dimakamkan di daerah Magetan.

Dengan data-data tersebut diatas penting sekali bahwa warisan-warisan leluhur dan latar belakang sejarah Kabupaten Magetan itu terus dipepetri sehingga tetap mempunyai nilai, arti dan jiwa pendorong semangat demi suksesnya pembangunan yang semakin berkembang.

PROSES BERDIRINYA KABUPATEN MAGETAN

Telah kita ketahui bersama lewat buku-buku sejarah ataupun peninggalan-peninggalan sejarah itu sendiri, bahwa daerah-daerah di Indonesia pada umumnya dan termasuk pulau Jawa, pada jaman dahulu dikuasai oleh kerajaan-kerajaan besar maupun kecil. Hal ini tidak terkecuali mengenai wilayah sebelah timur gunung Lawu, yang sekarang ini kita kenal dengan nama daerah Kabupaten Magetan.
Pada buku sejarah Kabupaten Magetan telah disebutkan, bahwa kita tidak mungkin mengungkapkan sejarah Magetan tanpa mengemukakan masalah kerajaan terdekat yang berkuasa serta masalah-masalah VOC atau kompeni Belanda. Berikut peristiwa-peristiwa yang berhubungan dengan lahirnya Kabupaten Magetan :
  1. Wafatnya Sultan Agung Hanyokrokusumo pada tahun 1645 merupakan tonggak sejarah mulai surutnya kejayaan kerajaan Mataram. Beliau sangat gigih melawan VOC, sedangkan penggantinya ialah Sultan Amangkurat I yang menduduki tahta kerajaan Mataram pada tahun 1646-1677 dimana sikapnya yang lemah terhadap VOC atau kompeni Belanda.
  2. Pada tahun 1646 Sultan Amangkurat I mengadakan perjanjian dengan VOC, sehingga VOC dapat memperkuat diri karena bebas dari serangan Mataram, bahkan pengaruh VOC dapat leluasa masuk Mataram. Kerajaan Mataram menjadi semakin lemah, pelayaran perdagangan menjadi dibatasi tidak diperbolehkan melakukan pelayaran ke pulau Banda, Ambon dan Ternate. Peristiwa tersebut menyebabkan tumbuhnya tanggapan yang negatif terhadap Sultan Amangkurat I di kalangan keraton, terutama pihak oposisi, termasuk putranya sendiri yaitu Adipati Anom yang kelak bergelar Amangkurat II. Kejadian-kejadian di pusat pemerintahan Mataram selalu diikuti oleh daerah Mancanegara, sehingga pangeran Giri yang sangat berpengaruh di daerah pesisir utara pulau Jawa mulai bersiap-siap melepaskan diri dari kekuasaan Mataram. Pada masa itu seorang pangeran dari Madura yang bernama Trunojoyo sangat kecewa pada pamannya yang bernama pangeran Cakraningrat II kerena terlalu mengabaikan Madura dan hanya bersenang-senang di pusat pemerintahan Mataram. Trunojoyo melancarkan pemberontakan terhadap Mataram pada tahun 1674.
  3. Dalam suasana seperti itu kerabat keraton Mataram yang bernama Basah Bibit atau Basah Gondokusumo dan patih Mataram yang bernama pangeran Nrang Kusumo dituduh bersekutu dengan para ulama yang beroposisi dan menentang kebijaksanaan Sultan Amangkurat I. Atas tuduhan tersebut Basah Gondokusumo diasingkan ke Gedong Kuning Semarang selama 40 hari ditempat kediaman Kakek beliau yang bernama Basah Suryaningrat. Patih Nrang Kusumo meletakkan jabatan dan pergi bertapa ke daerah sebelah timur gunung Lawu. Beliau diganti oleh adiknya yang bernama Pangeran Nrang Boyo II. Keduanya ini putra patih Nrang Boyo (Kanjeng Gusti Susuhunan Giri IV Mataram).
  4. Dalam pengasingan tersebut Basah Gondokusumo mendapat nasehat dari kakeknya, yaitu Basah Suryaningrat dan kemudian beliau berdua menyingkir ke daerah sebelah timur gunung Lawu. Beliau berdua memilih tempat ini karena menerima berita bahwa di sebelah timur gunung Lawu sedang diadakan babad hutan. Babad hutan ini dilaksanakan oleh seorang yang bernama Ki Buyut Suro, yang kemudian bergelar Ki Ageng Getas. Pelaksanaan babad hutan ini atas dasar perintah Ki Ageng Mageti sebagai cikal bakal daerah tersebut.
  5. Untuk mendapatkan sebidang tanah untuk bermukim di sebelah timur gunung Lawu itu, Basah Suryaningrat dan Basah Gondokusumo menemui Ki Ageng Mageti di tempat kediamannya yaitu dukuh Gandong Kidul (Gandong Selatan), tempatnya di sekitar alun-alun kota Magetan dengan perantaraan Ki Ageng Getas. Hasil dari pertemuan ini Basah Suryaningrat diberi sebidang tanah disebelah utara sungai gandong, tepatnya di desa Tambran Kecamatan kota Magetan sekarang. Peristiwa ini terjadi setelah melalui suatu perdebatan yang sengit antara Ki Ageng Mageti dengan Basah Suryaningrat. Lewat perdebatan ini Ki Ageng Mageti mengetahui bahwa Basah Suryaningrat bukan saja kerabat keraton Mataram, melainkan sesepuh Mataram yang memerlukan pengayoman. Karena itu akhirnya Ki Ageng Mageti mempersembahkan seluruh tanah miliknya sebagai bukti kesetiannya terhadap Mataram. Setelah Basah Suryaningrat menerima tanah persembahan dari Ki Ageng Mageti itu sekaligus mewisuda cucunya yaitu Basah Gondokusumo menjadi penguasa di tempat baru itu dengan gelar Yosonegoro yang kemudian dikenal sebagai Bupati Yosonegoro. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 12 Oktober 1675. Basah Suryaningrat dan Basah Gondokusumo merasa sangat besar hatinya, karena telah mendapatkan persembahan tanah yang berwujud suatu wilayah yang cukup luas dan penuh dengan perhitungan strategis, juga mendapatkan sahabat yang dapat diandalkan kesetiannya, yaitu Ki Ageng Mageti. Itulah sebabnya tanah baru ini diberi nama Magetan.

Rabu, 20 Mei 2009

Hercules TNI AU Jatuh Di Magetan


Belum hilang dari ingatan jatuhnya pesawat angkut Fokker 27 Troopship milik TNI AU, 6 April 2009 di Lanud Hussein Sastranegara, Bandung. Kembali TNI AU ditimpa musibah, sekitar pukul 06:30 WIB, Rabu (20/5) diberitakan telah jatuh dan langsung terbakar pesawat angkut C-130 Hercules A-1325 milik TNI AU di persawahan Desa Nggeplak, Kecamatan Karas, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, lebih kurang 4 km dari Lanud Iswahyudi. Pesawat membawa 110 orang, 11 awak pesawat dan 99 penumpang sipil serta militer, diantaranya 10 orang anak-anak.

Pesawat sedang dalam proses mendarat di Lanud Iswahyudi. Dimana pilot dan kopilot sudah melihat landasan, namun sebelum pendaratan terjadi kerusakan mesin, ujar Kepala Pusat Penerangan TNI Marsekal Muda Sagom Tambuoen di Gedung Departemen Pertahanan, Jakarta kutip OkeZone, Rabu (20/5). Ditambahkannya jarak pandang antara 100 – 500 meter dan cuaca disekitar Madiun cukup baik.

Pesawat sedang dalam proses mendarat di Lanud Iswahyudi. Dimana pilot dan kopilot sudah melihat landasan, namun sebelum pendaratan terjadi kerusakan mesin, ujar Kepala Pusat Penerangan TNI Marsekal Muda Sagom Tambuoen di Gedung Departemen Pertahanan, Jakarta kutip OkeZone, Rabu (20/5). Ditambahkannya jarak pandang antara 100 – 500 meter dan cuaca disekitar Madiun cukup baik.

C-130 Hercules A-1325 baru satu tahun diremajakan di Depo Pemeliharaan 10 Pangkalan Udara Husein Sastranegara,dan sudah membukukan 800 jam terbang. Pesawat masih layak untuk diterbangkan, rilis ANTARA mengutip pernyataan Komandan Pemeliharaan Material TNI Angkatan Udara (Koharmatau) Marsekal Muda Sunaryo di Jakata (20/5).

Mabes TNI AU memiliki program peremajaan sembilan unit pesawat Hercules, empat dilakukan di Singapore Technical Industry (STI) Singapura. Sisanya dilakukan di Depo Pemeliharaan 10 dan 30 Pangkalan Udara Abdulrahman Saleh, oleh para teknisi TNI AU yang sebelumnya dikirim ke Singapura untuk meningkatkan kemampuan dalam memeliharan dan memperbaiki Hercules.

Peremajaan Hercules meliputi perbaikan badan pesawat (airframe), modifikasi avionik dan modifikasi mesin.

Pesawat A-1325 merupakan pesawat yang pertama diremajakan mesinnya dari T56-7 ke T56-15 atau ditingkatkan dari tipe B ke tipe H, disamping A-1327 dan A-1328.

Menurut Kapuspen TNI Marsekal Muda Sagom Tambuoen status pesawat masih laik terbang dengan data-data pendukung antara lain, pesawat buatan tahun 1980, masuk jajaran TNI AU 1994, pemeliharaan terakhir 28 September 2000 dengan rincian pemeliharaan tingkat sedang 22 November 1999, pemeliharaan ringan 19 Mei 2009. Sedangkan kondisi mesin pesawat rata-rata memiliki jam terbang yang mencukupi sedangkan baling-baling keempatnya memiliki jam terbang memadai, kutip OkeZone, Rabu (20/5).