Selasa, 25 Agustus 2015

Motif Batik Sidomukti Magetan


Motif Batik Sidomukti Magetan atau yang lebih terkenal batik Pring Sedapur telah menjadi salah satu batik favorit Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Batik Pring Sedapur diproduksi di kampung batik yang bernama Sidomukti. Kampung batik Sidomuktiberada di kecamatan Plaosan kabupaten Magetan. Batik unggulannya ialah batik Pring Sedapur atau batik Sidomukti Magetan. Corak dan warna yang dimiliki pada motif batik Sidomukti Magetan sangat unik sekali karena pengaruh budaya kampung sidomukti yang berbeda dan cukup modis. Motif Batik Sidomukti Magetan cenderung memiliki motif dan warna yang segar. Corak yang digunakan diantaranya adalah perpaduan ikon-ikon flora dan fauna asli Indonesia. Motif Batik Sidomukti Magetan selain memiliki motif Pring Sedapur juga memiliki motif lain, seperti Jalak Lawu.

Pemilihan pring atau bambu sebagai ikon dari motif batik Sidomukti Magetan, ada filosofinya. Pring atau bambu merupakan pohon yang memiliki banyak falsafah atau kearifan lokal. Pring selalu tumbuh bergerombol, Hal ini mengajarkan bahwa sejatinya manusia tidak bisa hidup sendiri, Oleh karena itulah kerukunan dan kebersamaan harus selalu dijaga. Dari sebilah bambu juga, terdapat nilai perjuangan, karena dulu bambu dirubah menjadi bambu runcing yang digunakan sebagai senjata untuk menghadapi penjajah. Kita menyebut Batik sidomukti magetan bukan berdasar motif batik tapi karena nama desanya yatu sidomukti,sehingga tidak bisa kita samakan dengan motif batik sidomukti Solo dan motif batik sidomukti Yogyakarta. Hal ini bisa ditunjukkan dari motif yang terbentuk maupun filosofi yang terkandung didalam motif batik tulis tersebut.





Minggu, 03 Agustus 2014

Data Lembaga Sekolah Dasar Kecamatan Kota



1


60717793


MIN 3 MAGETAN


JL. SULAWESI NO. 15 MAGETAN


Tawanganom


NEGERI
2 20555402SD IIS PSMJalan Monginsidi No. 52CandirejoSWASTA
3 20509481SD ISLAMIYAHJl. MT Haryono No 9KepolorejoSWASTA
4 20509479SD Muhammadiyah 1 MagetanJl. Mh. Thamrin 18MagetanSWASTA
5 20509541SD NEGERI BARON 1Jl. Gubernur Suryo Km 3 MagetanBARONNEGERI
6 20509540SD NEGERI BARON 2Desa BaronBARONNEGERI
7 20509743SD NEGERI BULUKERTO 2Jl. Bromo 20BulukertoNEGERI
8 20509751SD NEGERI CANDIREJO 1Jl. Raya Sarangan No. 17CANDIREJONEGERI
9 20509665SD NEGERI KEBONAGUNGJl. Kresno 40KebonagungNEGERI
10 20509639SD NEGERI KEPOLOREJO 1Jl. Bangka 13KEPOLOREJONEGERI
11 20509638SD NEGERI KEPOLOREJO 2Jl Bangka No 13KEPOLOREJONEGERI
12 20509680SD NEGERI MAGETAN 1Jl. Kemasan No. 19MAGETANNEGERI
13 20509679SD NEGERI MAGETAN 2Jl. Kartini No. 2MAGETANNEGERI
14 20509687SD NEGERI MAGETAN 3Jalan Kartini 2MAGETANNEGERI
15 20509688SD NEGERI MAGETAN 4Jl. Kartini No. 2MAGETANNEGERI
16 20509693SD NEGERI MANGKUJAYANJl. Menur 40MANGKUJAYANNEGERI
17 20509141SD NEGERI PURWOSARI 1Jl. Gubernur SuryoPURWOSARINEGERI
18 20509129SD NEGERI PURWOSARI 2Desa PurwosariPURWOSARINEGERI
19 20509121SD NEGERI RINGINAGUNG 2Desa RinginagungRINGINAGUNGNEGERI
20 20509191SD NEGERI SELOSARI 1Jl Monginsidi No 11SELOSARINEGERI
21 20509189SD NEGERI SELOSARI 3Jl. Monginsidi No. 11SelosariNEGERI
22 20509188SD NEGERI SELOSARI 4Jalan Sawo No. 15SELOSARINEGERI
23 20509404SD NEGERI SUKOWINANGUN 1Jl. Yos Sudarso No. 61 B MagetanSUKOWINANGUNNEGERI
24 20509403SD NEGERI SUKOWINANGUN 2Jl. Kunti No. 41SUKOWINANGUNNEGERI
25 20509402SD NEGERI SUKOWINANGUN 3Jl Yos Sudarso No 61 BSUKOWINANGUNNEGERI
26 20509401SD NEGERI SUKOWINANGUN 4Jl. Letjen Sutoyo No. 31SUKOWINANGUNNEGERI
27 20509394SD NEGERI TAMBAKREJOJl. Raya Tambakrejo No 02TAMBAKREJONEGERI
28 20509393SD NEGERI TAMBRAN 1Jl. Pandu 12TambranNEGERI
29 20509448SD NEGERI TAWANGANOM 1Jalan Irian 23 MagetanTawanganomNEGERI
30 20509447SD NEGERI TAWANGANOM 2Jl. Timor 47TAWANGANOMNEGERI
31 20548399SDIT AL USWAH MAGETANJalan S. ParmanKebonagungSWASTA
32 69754605SDIT Ar Rohmah MagetanJl. Hasanudin Rt.01 Rw.05 Kelurahan SelosariSelosariSWASTA
33 20509480SDK SANTA MARIAJl Jaksa Agung Suprapto No 1MAGETANSWASTA
34 20509122SDN RINGINAGUNG 1Ds. RinginagungRinginagungNEGERI
35 20509190SDN SELOSARI 2Jl. Monginsidi 11SelosariNEGERI
36 20570911TK dan SD Negeri Unggulan MagetanJl. Bupati Sudibyo No. 52 MagetanMangkujayanNEGERI

Senin, 03 Maret 2014

Seni Cokekan Magetan


Seni Cokekan seringkali dipandang sebelah mata. Selain pemainnya yang sudah tua, alat musiknya juga seadanya. Namun, seni tradisional itu hingga kini masih terus bertahan di Magetan. inilah kisah seorang pelaku seni cokekan di Magetan dengan narasi cerita
KAKI dua pria tua melangkah gontai menyusuri trotoar sebelah barat Alun-Alun Magetan. Terik matahari menjelang dzuhur membuat keduanya menyeringai serta merapatkan kelopak matanya.
Di depan keduanya, berjalan seorang perempuan paro baya dengan dandanan cukup menor ditambah balutan kebaya warna biru serta jarit abu-abu. Selendang warna merah yang menggantung di lehernya berkibaran diterpa angin.
Kedua pria itu berjalan beriringan. Yang satu menggendong kendang di bahu sebelah kanan. Tangan kirinya menenteng bumbung bambu yang panjangnya sekitar setengah meter.
Sesekali, ia membetulkan letak topi warna hitam kesayangannya. Baju warna kuning yang dikenakan tampak mencolok siang itu. Di sampingnya, tampak pria yang tubuhnya lebih kecil dan ringkih.
Mengenakan baju warna abu-abu dan topi pramuka, ia menjinjing siter di tangan kanannya. Langkah keduanya mengikuti “sang putri” yang berjalan di depan.
Tak lama berselang, ketiganya berhenti di warung depan kantor DPRD Magetan. Wanita yang mengenakan kebaya itu duduk bersimpuh di atas kursi pendek yang lantas diikuti kedua pria. Mereka adalah pemain musik cokekan yang keliling dari desa ke desa.
Usai mengucapkan salam, kendang yang ditenteng Bagyo langsung ditabuh. Dentum bunyi kendang langsung diiringi nada yang keluar dari petikan jari Midin, pemain siter.
Tanpa dikomando, pada saat nada kendang dan siter berpadu pada nada tertentu, lantunan tembang Pepeling keluar dari bibir Sarmi. “Wis wancine, padha dielingke… (sudah waktunya untuk diingatkan)”.
Begitulah ketiganya memulai aksinya bermain musik cokekan. Pada nada-nada tertentu, Bagyo yang menabuh kendang mendekatkan mulutnya pada bumbung bambu disandarkan pada kakinya lantas meniupnya keras, bummm…layaknya suara gong.
Usai menyanyikan tembang Pepeling, Sarmi, 75, warga Desa-Kecamatan Kasreman, Kabupaten Ngawi, yang kedapuk sebagai vokalis, terdiam sejenak. Ia lantas menawari beberapa warga yang duduk di warung dengan pilihan beberapa tembang. “Minta lagu apa Mas,” katanya centil.
Sarmi, yang sekaligus sebagai pembawa acara itu dengan sikap genit meminta warga yang duduk di dipan warung ini meminta lagu. Wajah keriputnya ditutupi bedak cukup tebal. Tapi, gurat kecantikannya masih begitu jelas kentara. Ia juga centil. “Mangga tho mas…” rayunya.
Usai melantunkan langgam jawa, Sri Huning, Sarmi mengaku telah keliling tiga kelurahan. Yakni, Tawanganom, Selosari dan Mangkujayan. Hanya saja, dari ketiga kelurahan itu mereka baru mendapatkan uang kurang lebih Rp 25 ribu. Padahal, uang tersebut nantinya dibagi bertiga.
Dari pengakuannya, ia menggeluti seni Cokekan sejak 10 tahun lalu. Sebelumnya, di Ngawi, ia gabung dengan kelompok seni kerawaitan. Lantaran usianya yang terus bertambah, ia jarang diajak saat kelompok tersebut pentas.
Akhirnya, ia bergabung dengan Bagyo dan Midin yang sudah terjun lebih lama di dunia cokekan. Biasanya, pukul 05.00, Sarmi berangkat dari Ngawi. “Terus pukul tujuh bersama rombongan mulai muter,” katanya.
Pernyataan serupa dilontarkan Midin, 70, warga Desa Tinap Kecamatan Sukomoro. Menurut dia, di rumahnya ada sekitar tujuh kelompok musik Cokekan. Mereka semua memiliki kelompok yang rata-rata terdiri tiga orang. Yakni, penyanyi, kendang dan siter. “Sudah sejak kecil saya keliling seperti ini,” kata kakek empat cucu itu dengan bangga.
Mereka bertiga mengaku membentuk kelompok sejak tahun 1998 lalu. Midin sendiri, mulai membeli siter bekas dan memperbaikinya sejak tahun 1988. Sebaliknya, Bagyo yang bertugas menabuh kendang mengaku membeli kendang pada tahun 1968 saat orang tuanya masih hidup. Kendang tua tersebut dulunya dibeli seharga Rp 25. “Biar jelek, tapi telah menjadi sumber urip (mata pencaharian) keluarga,” ujarnya.
Saat sepi seperti hari itu, Bagyo mengaku hanya mendapat bagian sekitar Rp 10 ribu. Namun, jika ramai, bisa mendapat bagian hingga Rp 50 ribu. “Tidak semua uang hasil tanggapan dibagi. Sebagian dipotong untuk makan dan uang jalan,” tambahnya.
Meski begitu, ketiganya mengaku senang bermain Cokekan. Selain menjadi mata pencaharian, ketiganya mengaku senang bisa bermain musik. “Hobi kami ini gamelan, jadi seneng sekali main meski bayarannya hanya seribu atau dua ribu,” kata Midin sambil tertawa. 

Senin, 15 Juli 2013

PARTISIPASI POLITIK MASYARAKAT DALAM PEMILIHAN UMUM (STUDI TURN OF VOTER DALAM PEMILIHAN UMUM KEPALA DAERAH KABUPATEN MAGETAN TAHUN 2013)



Penelitian ini fokus pada partisipasi politik masyarakat dalam pemilihan umumkhususnya melihat turn of voter dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah Kabupaten MagetanTahun 2013. Partisipasi penting untuk diteliti mengingat keberhasilan dari sebuah pemilu dapatdilihat dari tingkat pasrtisipasi masyarakat. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teoripartisipasi politik dan teori pilihan rasional. Terdapat dua rumusan masalah yang dibahas dalampenelitian ini, pertama, bagaimana upaya meningkatkan partisipasi politik dalam PemilihanUmum Kepala Daerah Kabupaten Magetan tahun 2013?. Kedua, bagaimana rasionalitasmasyarakat dalam partisipasi politik dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah KabupatenMagetan tahun 2013? Adapun hasil dari penelitian ini adalah pertama, terdapat upaya dariKPUD, Partai Politik, Media massa, dan civil society dalam meningkatkan partisipasi politik.Kedua, rasionalitas masyarakat memberikan pengaruh yang sangat besar dalam menentukanpartisipasi politik. Pertimbangan ekonomi dan politik uang menjadi salah satu motivasi dalampartisipasi politik. Namun sosok pasangan kandidat dan visi missi juga tidak bisa diabaikandalam pengaruhnya terhadap partisipasi politik masyarakat.

Kamis, 20 Juni 2013

Pasar Baru Magetan, Yang Tidak Baru ( Lagi )


Pasar Baru Kota Magetan berada di Jl. Pasar Baru, atau Jl. Panglima Sudirman . Pasar baru Kota Magetan di bangun sekitar tahun '93 an. Pasar Baru Kota Magetan ini Berlantai 2.
Pasar Baru Kota Magetan,Lantai satu berisi pedagang makanan, pakaian,pernak pernik acecoris, mainan anak-anak, elektronik, alat tulis dan perkantoran sampai dengan perkakas bangunan dan pertanian.
Pasar Baru Kota Magetan, Lantai dua, berisi pedagang sandal, sepatu, sabuk, pakaian, dan permainan anak-anak.
Bagi teman-teman yang belum pernah ke Magetan tak ada salahnya mengunjungi Pasar Baru Kota magetan. Apabila anda traveling ke telaga sarangan dari arah Madiun anda akan melewati Pasar Baru Kota Magetan ini, silahkan mampir membeli oleh-oleh untuk keluarga tersayang dirumah.


Sabtu, 30 Maret 2013

Sejarah Industri Kerajinan Kulit Magetan

Sudah sejak lama Kabupaten Magetan dikenal sebagai penghasil kerajinan kulit. Kerajinan Kulit Magetan sudah terkenal memiliki kualitas dan kaewetan yang sangat baik namun dengan harga yang relatif lebih terjangkau jika dibandingkan produk kulit dari daerah lain. Dibalik maju dan berkembangnya industri kerajinan kulit di Magetan. Tahukan Anda Sejarah Industri Kerajinan Kulit Magetan
SEJARAH
Industri Kerajinan Kulit Magetan sudah melalui sejarah yang sangat panjang. Industri penyamakan kulit di Kabupaten Magetan sudah ada dan berlangsung sejak tahun 1830. Dipicu oleh berakhirnya Perang Diponegoro, para pengikut setia Pangeran Diponegoro yang tersebar di daerah timur sampai ke Magetan memulai usaha penyamakan kulit. Pada awalnya mereka membuat kerajinan kulit untuk perlengkapan berkuda dan berperang. Namun lama kelamaan usaha tersebut semakin berkembang, pernah sempat terhenti sementara pada masa pendudukan Jepang akan tetapi mulai bergeliat kembali setelah kemerdekaan Indonesia. 

Setelah masa kemerdekaan, para perajin kulit di Magetan mulai berani berkreasi dengan aneka model kerajinan kulit seperti Sepatu Kulit dan Sandal Kulit. Tercatat periode tahun 1950-1960 an adalah masa-masa keemasan Industri Kerajinan Kulit Magetan. Namun sangat disayangkan, pada tahun 1970-an industri kulit Magetan mengalami penurunan signifikan karena dipicu oleh semakin luasnya penggunaan barang berbahan dasar plastik serta kebijakan pemerintah pada saat itu yang memberi kebebasan ekspor kulit mentah seluas-luasnya. Hal ini berdampak pada industri kerajinan kulit dalam negeri yang semakin tidak berkembang.
DUKUNGAN PEMERINTAH
Seiring berjalanya waktu, pemerintah mencanangkan program REPELITA (Rencana Pembangunan Lima Tahun), mulai dibentuklah Departemen Perindustrian. Pemerintah mulai melakukan pembinaan untuk mengembangkan unit-unit usaha di daerah. Tidak terkecuali di Magetan, pemerintah mulai melakukan pembinaan dan pelatihan dasar untuk mengembangkan Industri Kerajinan Kulit Magetan. Pembinaan diberikan mulai dari ketrampilan dasar pembuatan kerajinan kulit dan pengembangan industri penyamakan kulit.

Pada awalnya kegiatan penyamakan kulit di Magetan masih tersebar di daerah-daerah dan belum terorganisir dengan baik. Oleh karena itu gubernur Jawa Timur pada saat itu meresmikan Lingkungan Industri Kulit (LIK) di Magetan. Sebagai wadah berkumpul para pengusaha penyamakan kulit di Magetan.



Dengan dibangunya Lingkungan Industri Kulit (LIK), secara berangsur-angsur para penyamak kulit yang tersebar di Magetan mulai memindahkan kegiatan usahanya ke dalam lingkungan LIK. Usaha pemerintah ini terbukti berhasil. Karena dengan dibangunya LIK maka akan mepermudah dala melakukan kegiatan pambinaan terhadap para perajin. Pemerintah mulai mendorong Industri Kulit Magetan dengan penerapan kegiatan industri berbasis teknologi. Sehingga Industri Kulit Magetan bisa menghasilkan produk kulit berkualitas tinggi dan mampu bersaing di pasar nasional.
JALAN SAWO
Seiring berjalanya waktu, Industri Kerajinan Kulit Magetan berpusat di Kelurahan Selosari Magetan. Para perajin kulit mendirikan toko di daerah Jalan Sawo MagetanSentra Kerajinan Kulit di Jalan Sawo mulai dirintis pada tahun 1960-an. Pemilihan Jalan Sawo Magetan berdasarkan lokasinya yang sangat strategis. Yaitu terletak di jalur yang dilalui kendaraan pariwisata yang hendak menuju ke objek wisata Telaga Sarangan. Telaga Sarangan adalah objek wisata unggulan Kabupaten Magetan. 




Industri Kulit di Jalan Sawo Magetan dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Para perajin sudah memiliki toko untuk memajang hasil kerajinan kulitnya sendiri. Terhitung pada tahun 2013 industri kerajinan kulit Jalan Sawo Magetan memiliki 14 Unit Usaha Kecil Menengah (UKM) dengan jumlah tenaga kerja mencapai 223 orang.



Perkembagan produksi kerajinan kulit Magetan juga diimbangi dengan perkembangan pemasaran produk. Saat ini kegiatan pemasaran produk kulit Magetan tidak hanya memenuhi permintaan lokal di pulau Jawa melainkan juga sudah merambah ke pasar regional meliputi pulau Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, kepulauan Nusa Tenggara, hingga ke Papua. Seiring dengan perkembangan teknologi, Sepatu Kulit Magetan mulai dipasarkan secara digital melalui internet. Hal ini semakin mendorong berkembangnya Industri Kerajinan Kulit Magetan. 


Minggu, 30 Januari 2011

Telaga Sarangan

Ada banyak objek wisata di sekitar kaki Gunung Lawu yang semuanya memiliki hawa sejuk khas pegunungan. Salah satunya adalah Telaga Sarangan yang merupakan objek wisata favorite yang terletak di kaki Gunung Lawu
Objek wisata ini menjadi tempat piknik favorite karna memiliki pemandangan dan suasana alam yang asik. Dikelilingi oleh bukit-bukit hijau yang memperindah pemandangan. Selain itu, di sekitar telaga juga banyak terdapat wahana wisata untuk mendukung kegiatan wisata disana. Meski secara administratif terletak di kabupaten Magetan, Jawa Timur, namun lokasi wisata ini lebih dekat dengan Tawangmangu di kabupaten Karanganyar di Jawa Tengah. Dari Tawangmangu jaraknya hanya sekitar 5 km, sedangkan dari kota Magetan jaraknya sekitar 16 km

Luas area telaga ini kira-kira 30 ha dengan kedalaman mencapai 28 m. Ada banyak cara yang bisa dilakukan pengunjung untuk menikmati keindahan telaga alami ini. Untuk menjelajahi isi telaga para pengunjung bisa menyewa perahu berkecepatan tinggi atau dengan perahu kayuh untuk yang lebih santai. Jika tidak ingin berurusan dengan air, kamu juga bisa menikmati keindahan sekitar telaga dengan berkeliling menaiki kuda yang banyak disewakan disana
Daerah di sekitar telaga ini telah dikembangkan menjadi sebuah tempat wisata unggulan. Tak heran kalau banyak sekali penginapan yang terdapat di sekitar sana. Jadi, tak perlu khawatir kalau ingin menginap di sekitar telaga. Telaga sarangan ini tak pernah sepi pengunjung. Apalagi saat hari libur. Begitu memasuki kawasan telaga kita akan langsung disambut oleh banyak pedagang souvenir yang menjajakan berbagai benda kerajinan dan juga sayur-sayuran serta buah-buahan yang tumbuh di daerah pegunungan

Selain bisa menikmati suasana telaga sambil berkeliling, salah satu cara lain untuk menikmati suasana disana adalah dengan duduk lesehan di warung makan sambil menikmati berbagai macam kuliner seperti sate kelinci dan kuliner lain khas Magetan
Ada sebuah cerita yang dipercaya sebagai latar belakang terbentuknya telaga alami ini. Konon, sebelum terbentuk telaga, daerah di sekitar telaga merupakan daratan subur. Jaman dulu, ada sepasang suami istri yang usianya sudah senja. Mereka hidup bahagia dengan bercocok tanam di sekitar hutan. Suatu hari sang kakek pergi ke hutan untuk menebang kayu. Setelah menemukan kayu yang hendak di tebang sang kakek melihat sebutir telur di dekat pohon tersebut. Ia akhirnya pulang kerumah dengan membawa telur tersebut dan tidak jadi menebang pohon

Sesampainya di rumah, telur tersebut dimasak oleh nenek dan disantap berdua dengan sang kakek. Setelah menyantap telur tersebut sang kakek kembali ke hutan untuk menenang pohon. Namun, tubuh sang kakeh tiba-tiba berubah menjadi panas dan ia terguling-guling di tanah. Tubuh sang kakeh akhirnya berubah menjadi naga
Hal serupa juga terjadi pada sang nenek. Ia merasakan panas di sekujur tubuhnya dan berniat untuk menyusul sang kakek ke hutan. Ia kaget melihat seeokor naga yang berguling-guling. Sampai kemudian sang nenek juga berubah bentuk menjadi seekor naga
Menurut cerita, gesekan kedua naga tersebut menghasilkan cekungan berukuran besar yang memancarkan sumber air air alami. Jadilah Telaga Sarangan yang juga dikenal dengan nama Telaga Pasir ini

Telaga Sarangan juga memiliki beberapa acara tahunan yang rutin diadakan oleh masyarakat setempat. Diantaranya adalah labuh sesaji pada Jumat Pon bulan Ruwah serta Ledug Sura 1 Muharram. Pada malam tahun baru di sekitar telaga juga rutin diadakan pesta kembang api