Minggu, 03 Agustus 2014

Data Lembaga Sekolah Dasar Kecamatan Kota



1


60717793


MIN 3 MAGETAN


JL. SULAWESI NO. 15 MAGETAN


Tawanganom


NEGERI
2 20555402SD IIS PSMJalan Monginsidi No. 52CandirejoSWASTA
3 20509481SD ISLAMIYAHJl. MT Haryono No 9KepolorejoSWASTA
4 20509479SD Muhammadiyah 1 MagetanJl. Mh. Thamrin 18MagetanSWASTA
5 20509541SD NEGERI BARON 1Jl. Gubernur Suryo Km 3 MagetanBARONNEGERI
6 20509540SD NEGERI BARON 2Desa BaronBARONNEGERI
7 20509743SD NEGERI BULUKERTO 2Jl. Bromo 20BulukertoNEGERI
8 20509751SD NEGERI CANDIREJO 1Jl. Raya Sarangan No. 17CANDIREJONEGERI
9 20509665SD NEGERI KEBONAGUNGJl. Kresno 40KebonagungNEGERI
10 20509639SD NEGERI KEPOLOREJO 1Jl. Bangka 13KEPOLOREJONEGERI
11 20509638SD NEGERI KEPOLOREJO 2Jl Bangka No 13KEPOLOREJONEGERI
12 20509680SD NEGERI MAGETAN 1Jl. Kemasan No. 19MAGETANNEGERI
13 20509679SD NEGERI MAGETAN 2Jl. Kartini No. 2MAGETANNEGERI
14 20509687SD NEGERI MAGETAN 3Jalan Kartini 2MAGETANNEGERI
15 20509688SD NEGERI MAGETAN 4Jl. Kartini No. 2MAGETANNEGERI
16 20509693SD NEGERI MANGKUJAYANJl. Menur 40MANGKUJAYANNEGERI
17 20509141SD NEGERI PURWOSARI 1Jl. Gubernur SuryoPURWOSARINEGERI
18 20509129SD NEGERI PURWOSARI 2Desa PurwosariPURWOSARINEGERI
19 20509121SD NEGERI RINGINAGUNG 2Desa RinginagungRINGINAGUNGNEGERI
20 20509191SD NEGERI SELOSARI 1Jl Monginsidi No 11SELOSARINEGERI
21 20509189SD NEGERI SELOSARI 3Jl. Monginsidi No. 11SelosariNEGERI
22 20509188SD NEGERI SELOSARI 4Jalan Sawo No. 15SELOSARINEGERI
23 20509404SD NEGERI SUKOWINANGUN 1Jl. Yos Sudarso No. 61 B MagetanSUKOWINANGUNNEGERI
24 20509403SD NEGERI SUKOWINANGUN 2Jl. Kunti No. 41SUKOWINANGUNNEGERI
25 20509402SD NEGERI SUKOWINANGUN 3Jl Yos Sudarso No 61 BSUKOWINANGUNNEGERI
26 20509401SD NEGERI SUKOWINANGUN 4Jl. Letjen Sutoyo No. 31SUKOWINANGUNNEGERI
27 20509394SD NEGERI TAMBAKREJOJl. Raya Tambakrejo No 02TAMBAKREJONEGERI
28 20509393SD NEGERI TAMBRAN 1Jl. Pandu 12TambranNEGERI
29 20509448SD NEGERI TAWANGANOM 1Jalan Irian 23 MagetanTawanganomNEGERI
30 20509447SD NEGERI TAWANGANOM 2Jl. Timor 47TAWANGANOMNEGERI
31 20548399SDIT AL USWAH MAGETANJalan S. ParmanKebonagungSWASTA
32 69754605SDIT Ar Rohmah MagetanJl. Hasanudin Rt.01 Rw.05 Kelurahan SelosariSelosariSWASTA
33 20509480SDK SANTA MARIAJl Jaksa Agung Suprapto No 1MAGETANSWASTA
34 20509122SDN RINGINAGUNG 1Ds. RinginagungRinginagungNEGERI
35 20509190SDN SELOSARI 2Jl. Monginsidi 11SelosariNEGERI
36 20570911TK dan SD Negeri Unggulan MagetanJl. Bupati Sudibyo No. 52 MagetanMangkujayanNEGERI

Senin, 03 Maret 2014

Seni Cokekan Magetan


Seni Cokekan seringkali dipandang sebelah mata. Selain pemainnya yang sudah tua, alat musiknya juga seadanya. Namun, seni tradisional itu hingga kini masih terus bertahan di Magetan. inilah kisah seorang pelaku seni cokekan di Magetan dengan narasi cerita
KAKI dua pria tua melangkah gontai menyusuri trotoar sebelah barat Alun-Alun Magetan. Terik matahari menjelang dzuhur membuat keduanya menyeringai serta merapatkan kelopak matanya.
Di depan keduanya, berjalan seorang perempuan paro baya dengan dandanan cukup menor ditambah balutan kebaya warna biru serta jarit abu-abu. Selendang warna merah yang menggantung di lehernya berkibaran diterpa angin.
Kedua pria itu berjalan beriringan. Yang satu menggendong kendang di bahu sebelah kanan. Tangan kirinya menenteng bumbung bambu yang panjangnya sekitar setengah meter.
Sesekali, ia membetulkan letak topi warna hitam kesayangannya. Baju warna kuning yang dikenakan tampak mencolok siang itu. Di sampingnya, tampak pria yang tubuhnya lebih kecil dan ringkih.
Mengenakan baju warna abu-abu dan topi pramuka, ia menjinjing siter di tangan kanannya. Langkah keduanya mengikuti “sang putri” yang berjalan di depan.
Tak lama berselang, ketiganya berhenti di warung depan kantor DPRD Magetan. Wanita yang mengenakan kebaya itu duduk bersimpuh di atas kursi pendek yang lantas diikuti kedua pria. Mereka adalah pemain musik cokekan yang keliling dari desa ke desa.
Usai mengucapkan salam, kendang yang ditenteng Bagyo langsung ditabuh. Dentum bunyi kendang langsung diiringi nada yang keluar dari petikan jari Midin, pemain siter.
Tanpa dikomando, pada saat nada kendang dan siter berpadu pada nada tertentu, lantunan tembang Pepeling keluar dari bibir Sarmi. “Wis wancine, padha dielingke… (sudah waktunya untuk diingatkan)”.
Begitulah ketiganya memulai aksinya bermain musik cokekan. Pada nada-nada tertentu, Bagyo yang menabuh kendang mendekatkan mulutnya pada bumbung bambu disandarkan pada kakinya lantas meniupnya keras, bummm…layaknya suara gong.
Usai menyanyikan tembang Pepeling, Sarmi, 75, warga Desa-Kecamatan Kasreman, Kabupaten Ngawi, yang kedapuk sebagai vokalis, terdiam sejenak. Ia lantas menawari beberapa warga yang duduk di warung dengan pilihan beberapa tembang. “Minta lagu apa Mas,” katanya centil.
Sarmi, yang sekaligus sebagai pembawa acara itu dengan sikap genit meminta warga yang duduk di dipan warung ini meminta lagu. Wajah keriputnya ditutupi bedak cukup tebal. Tapi, gurat kecantikannya masih begitu jelas kentara. Ia juga centil. “Mangga tho mas…” rayunya.
Usai melantunkan langgam jawa, Sri Huning, Sarmi mengaku telah keliling tiga kelurahan. Yakni, Tawanganom, Selosari dan Mangkujayan. Hanya saja, dari ketiga kelurahan itu mereka baru mendapatkan uang kurang lebih Rp 25 ribu. Padahal, uang tersebut nantinya dibagi bertiga.
Dari pengakuannya, ia menggeluti seni Cokekan sejak 10 tahun lalu. Sebelumnya, di Ngawi, ia gabung dengan kelompok seni kerawaitan. Lantaran usianya yang terus bertambah, ia jarang diajak saat kelompok tersebut pentas.
Akhirnya, ia bergabung dengan Bagyo dan Midin yang sudah terjun lebih lama di dunia cokekan. Biasanya, pukul 05.00, Sarmi berangkat dari Ngawi. “Terus pukul tujuh bersama rombongan mulai muter,” katanya.
Pernyataan serupa dilontarkan Midin, 70, warga Desa Tinap Kecamatan Sukomoro. Menurut dia, di rumahnya ada sekitar tujuh kelompok musik Cokekan. Mereka semua memiliki kelompok yang rata-rata terdiri tiga orang. Yakni, penyanyi, kendang dan siter. “Sudah sejak kecil saya keliling seperti ini,” kata kakek empat cucu itu dengan bangga.
Mereka bertiga mengaku membentuk kelompok sejak tahun 1998 lalu. Midin sendiri, mulai membeli siter bekas dan memperbaikinya sejak tahun 1988. Sebaliknya, Bagyo yang bertugas menabuh kendang mengaku membeli kendang pada tahun 1968 saat orang tuanya masih hidup. Kendang tua tersebut dulunya dibeli seharga Rp 25. “Biar jelek, tapi telah menjadi sumber urip (mata pencaharian) keluarga,” ujarnya.
Saat sepi seperti hari itu, Bagyo mengaku hanya mendapat bagian sekitar Rp 10 ribu. Namun, jika ramai, bisa mendapat bagian hingga Rp 50 ribu. “Tidak semua uang hasil tanggapan dibagi. Sebagian dipotong untuk makan dan uang jalan,” tambahnya.
Meski begitu, ketiganya mengaku senang bermain Cokekan. Selain menjadi mata pencaharian, ketiganya mengaku senang bisa bermain musik. “Hobi kami ini gamelan, jadi seneng sekali main meski bayarannya hanya seribu atau dua ribu,” kata Midin sambil tertawa. 

Senin, 15 Juli 2013

PARTISIPASI POLITIK MASYARAKAT DALAM PEMILIHAN UMUM (STUDI TURN OF VOTER DALAM PEMILIHAN UMUM KEPALA DAERAH KABUPATEN MAGETAN TAHUN 2013)



Penelitian ini fokus pada partisipasi politik masyarakat dalam pemilihan umumkhususnya melihat turn of voter dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah Kabupaten MagetanTahun 2013. Partisipasi penting untuk diteliti mengingat keberhasilan dari sebuah pemilu dapatdilihat dari tingkat pasrtisipasi masyarakat. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teoripartisipasi politik dan teori pilihan rasional. Terdapat dua rumusan masalah yang dibahas dalampenelitian ini, pertama, bagaimana upaya meningkatkan partisipasi politik dalam PemilihanUmum Kepala Daerah Kabupaten Magetan tahun 2013?. Kedua, bagaimana rasionalitasmasyarakat dalam partisipasi politik dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah KabupatenMagetan tahun 2013? Adapun hasil dari penelitian ini adalah pertama, terdapat upaya dariKPUD, Partai Politik, Media massa, dan civil society dalam meningkatkan partisipasi politik.Kedua, rasionalitas masyarakat memberikan pengaruh yang sangat besar dalam menentukanpartisipasi politik. Pertimbangan ekonomi dan politik uang menjadi salah satu motivasi dalampartisipasi politik. Namun sosok pasangan kandidat dan visi missi juga tidak bisa diabaikandalam pengaruhnya terhadap partisipasi politik masyarakat.

Kamis, 20 Juni 2013

Pasar Baru Magetan, Yang Tidak Baru ( Lagi )


Pasar Baru Kota Magetan berada di Jl. Pasar Baru, atau Jl. Panglima Sudirman . Pasar baru Kota Magetan di bangun sekitar tahun '93 an. Pasar Baru Kota Magetan ini Berlantai 2.
Pasar Baru Kota Magetan,Lantai satu berisi pedagang makanan, pakaian,pernak pernik acecoris, mainan anak-anak, elektronik, alat tulis dan perkantoran sampai dengan perkakas bangunan dan pertanian.
Pasar Baru Kota Magetan, Lantai dua, berisi pedagang sandal, sepatu, sabuk, pakaian, dan permainan anak-anak.
Bagi teman-teman yang belum pernah ke Magetan tak ada salahnya mengunjungi Pasar Baru Kota magetan. Apabila anda traveling ke telaga sarangan dari arah Madiun anda akan melewati Pasar Baru Kota Magetan ini, silahkan mampir membeli oleh-oleh untuk keluarga tersayang dirumah.


Sabtu, 30 Maret 2013

Sejarah Industri Kerajinan Kulit Magetan

Sudah sejak lama Kabupaten Magetan dikenal sebagai penghasil kerajinan kulit. Kerajinan Kulit Magetan sudah terkenal memiliki kualitas dan kaewetan yang sangat baik namun dengan harga yang relatif lebih terjangkau jika dibandingkan produk kulit dari daerah lain. Dibalik maju dan berkembangnya industri kerajinan kulit di Magetan. Tahukan Anda Sejarah Industri Kerajinan Kulit Magetan
SEJARAH
Industri Kerajinan Kulit Magetan sudah melalui sejarah yang sangat panjang. Industri penyamakan kulit di Kabupaten Magetan sudah ada dan berlangsung sejak tahun 1830. Dipicu oleh berakhirnya Perang Diponegoro, para pengikut setia Pangeran Diponegoro yang tersebar di daerah timur sampai ke Magetan memulai usaha penyamakan kulit. Pada awalnya mereka membuat kerajinan kulit untuk perlengkapan berkuda dan berperang. Namun lama kelamaan usaha tersebut semakin berkembang, pernah sempat terhenti sementara pada masa pendudukan Jepang akan tetapi mulai bergeliat kembali setelah kemerdekaan Indonesia. 

Setelah masa kemerdekaan, para perajin kulit di Magetan mulai berani berkreasi dengan aneka model kerajinan kulit seperti Sepatu Kulit dan Sandal Kulit. Tercatat periode tahun 1950-1960 an adalah masa-masa keemasan Industri Kerajinan Kulit Magetan. Namun sangat disayangkan, pada tahun 1970-an industri kulit Magetan mengalami penurunan signifikan karena dipicu oleh semakin luasnya penggunaan barang berbahan dasar plastik serta kebijakan pemerintah pada saat itu yang memberi kebebasan ekspor kulit mentah seluas-luasnya. Hal ini berdampak pada industri kerajinan kulit dalam negeri yang semakin tidak berkembang.
DUKUNGAN PEMERINTAH
Seiring berjalanya waktu, pemerintah mencanangkan program REPELITA (Rencana Pembangunan Lima Tahun), mulai dibentuklah Departemen Perindustrian. Pemerintah mulai melakukan pembinaan untuk mengembangkan unit-unit usaha di daerah. Tidak terkecuali di Magetan, pemerintah mulai melakukan pembinaan dan pelatihan dasar untuk mengembangkan Industri Kerajinan Kulit Magetan. Pembinaan diberikan mulai dari ketrampilan dasar pembuatan kerajinan kulit dan pengembangan industri penyamakan kulit.

Pada awalnya kegiatan penyamakan kulit di Magetan masih tersebar di daerah-daerah dan belum terorganisir dengan baik. Oleh karena itu gubernur Jawa Timur pada saat itu meresmikan Lingkungan Industri Kulit (LIK) di Magetan. Sebagai wadah berkumpul para pengusaha penyamakan kulit di Magetan.



Dengan dibangunya Lingkungan Industri Kulit (LIK), secara berangsur-angsur para penyamak kulit yang tersebar di Magetan mulai memindahkan kegiatan usahanya ke dalam lingkungan LIK. Usaha pemerintah ini terbukti berhasil. Karena dengan dibangunya LIK maka akan mepermudah dala melakukan kegiatan pambinaan terhadap para perajin. Pemerintah mulai mendorong Industri Kulit Magetan dengan penerapan kegiatan industri berbasis teknologi. Sehingga Industri Kulit Magetan bisa menghasilkan produk kulit berkualitas tinggi dan mampu bersaing di pasar nasional.
JALAN SAWO
Seiring berjalanya waktu, Industri Kerajinan Kulit Magetan berpusat di Kelurahan Selosari Magetan. Para perajin kulit mendirikan toko di daerah Jalan Sawo MagetanSentra Kerajinan Kulit di Jalan Sawo mulai dirintis pada tahun 1960-an. Pemilihan Jalan Sawo Magetan berdasarkan lokasinya yang sangat strategis. Yaitu terletak di jalur yang dilalui kendaraan pariwisata yang hendak menuju ke objek wisata Telaga Sarangan. Telaga Sarangan adalah objek wisata unggulan Kabupaten Magetan. 




Industri Kulit di Jalan Sawo Magetan dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Para perajin sudah memiliki toko untuk memajang hasil kerajinan kulitnya sendiri. Terhitung pada tahun 2013 industri kerajinan kulit Jalan Sawo Magetan memiliki 14 Unit Usaha Kecil Menengah (UKM) dengan jumlah tenaga kerja mencapai 223 orang.



Perkembagan produksi kerajinan kulit Magetan juga diimbangi dengan perkembangan pemasaran produk. Saat ini kegiatan pemasaran produk kulit Magetan tidak hanya memenuhi permintaan lokal di pulau Jawa melainkan juga sudah merambah ke pasar regional meliputi pulau Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, kepulauan Nusa Tenggara, hingga ke Papua. Seiring dengan perkembangan teknologi, Sepatu Kulit Magetan mulai dipasarkan secara digital melalui internet. Hal ini semakin mendorong berkembangnya Industri Kerajinan Kulit Magetan. 


Minggu, 30 Januari 2011

Telaga Sarangan

Ada banyak objek wisata di sekitar kaki Gunung Lawu yang semuanya memiliki hawa sejuk khas pegunungan. Salah satunya adalah Telaga Sarangan yang merupakan objek wisata favorite yang terletak di kaki Gunung Lawu
Objek wisata ini menjadi tempat piknik favorite karna memiliki pemandangan dan suasana alam yang asik. Dikelilingi oleh bukit-bukit hijau yang memperindah pemandangan. Selain itu, di sekitar telaga juga banyak terdapat wahana wisata untuk mendukung kegiatan wisata disana. Meski secara administratif terletak di kabupaten Magetan, Jawa Timur, namun lokasi wisata ini lebih dekat dengan Tawangmangu di kabupaten Karanganyar di Jawa Tengah. Dari Tawangmangu jaraknya hanya sekitar 5 km, sedangkan dari kota Magetan jaraknya sekitar 16 km

Luas area telaga ini kira-kira 30 ha dengan kedalaman mencapai 28 m. Ada banyak cara yang bisa dilakukan pengunjung untuk menikmati keindahan telaga alami ini. Untuk menjelajahi isi telaga para pengunjung bisa menyewa perahu berkecepatan tinggi atau dengan perahu kayuh untuk yang lebih santai. Jika tidak ingin berurusan dengan air, kamu juga bisa menikmati keindahan sekitar telaga dengan berkeliling menaiki kuda yang banyak disewakan disana
Daerah di sekitar telaga ini telah dikembangkan menjadi sebuah tempat wisata unggulan. Tak heran kalau banyak sekali penginapan yang terdapat di sekitar sana. Jadi, tak perlu khawatir kalau ingin menginap di sekitar telaga. Telaga sarangan ini tak pernah sepi pengunjung. Apalagi saat hari libur. Begitu memasuki kawasan telaga kita akan langsung disambut oleh banyak pedagang souvenir yang menjajakan berbagai benda kerajinan dan juga sayur-sayuran serta buah-buahan yang tumbuh di daerah pegunungan

Selain bisa menikmati suasana telaga sambil berkeliling, salah satu cara lain untuk menikmati suasana disana adalah dengan duduk lesehan di warung makan sambil menikmati berbagai macam kuliner seperti sate kelinci dan kuliner lain khas Magetan
Ada sebuah cerita yang dipercaya sebagai latar belakang terbentuknya telaga alami ini. Konon, sebelum terbentuk telaga, daerah di sekitar telaga merupakan daratan subur. Jaman dulu, ada sepasang suami istri yang usianya sudah senja. Mereka hidup bahagia dengan bercocok tanam di sekitar hutan. Suatu hari sang kakek pergi ke hutan untuk menebang kayu. Setelah menemukan kayu yang hendak di tebang sang kakek melihat sebutir telur di dekat pohon tersebut. Ia akhirnya pulang kerumah dengan membawa telur tersebut dan tidak jadi menebang pohon

Sesampainya di rumah, telur tersebut dimasak oleh nenek dan disantap berdua dengan sang kakek. Setelah menyantap telur tersebut sang kakek kembali ke hutan untuk menenang pohon. Namun, tubuh sang kakeh tiba-tiba berubah menjadi panas dan ia terguling-guling di tanah. Tubuh sang kakeh akhirnya berubah menjadi naga
Hal serupa juga terjadi pada sang nenek. Ia merasakan panas di sekujur tubuhnya dan berniat untuk menyusul sang kakek ke hutan. Ia kaget melihat seeokor naga yang berguling-guling. Sampai kemudian sang nenek juga berubah bentuk menjadi seekor naga
Menurut cerita, gesekan kedua naga tersebut menghasilkan cekungan berukuran besar yang memancarkan sumber air air alami. Jadilah Telaga Sarangan yang juga dikenal dengan nama Telaga Pasir ini

Telaga Sarangan juga memiliki beberapa acara tahunan yang rutin diadakan oleh masyarakat setempat. Diantaranya adalah labuh sesaji pada Jumat Pon bulan Ruwah serta Ledug Sura 1 Muharram. Pada malam tahun baru di sekitar telaga juga rutin diadakan pesta kembang api

Jumat, 01 Januari 2010

Sejarah Berdirinya Magetan



Latar Belakang Sejarah Berdirinya Magetan

Dalam kehidupan social budaya, ternyata melalui tulisannya banyak para ahli sejarah menyebut-nyebut Magetan. Demikian pula dalam kenyataanya, di Magetan tidak sedikit dijumpai peninggalan-peninggalan pada jaman dahulu kala, misalnya di desa Kepolorejo Kecamatan Kota Magetan, di desa Cepoko Kecamatan Panekan. Di makam Sonokeling desa Kepolorejo Kecamatan Kota Magetan terdapat sebuah makam yang membujur kearah utara selatan. Batu nisan sebelah berukuran lebar 34 cm, tebal 26 cm, tinggi 66 cm yang bahannya terbuat dari batu andezit dimana bentuk tulisannya diperkirakan berasal dari sekitar abad 9. Di dukuh Sadon desa Cepoko kecamatan Panekan terdapat Kalamakara dengan reruntuhan batu lainnya yang bahannya juga dari batu andezit. Berdasarkan hal tersebut terdapat kemungkinan dipersiapkannya pendirian bangunan candi. Pada reruntuhan batu yang terletak dibawah makara terdapat tulisan yang tidak terbaca karena sudah rusak, dari bentuk tulisannya dapat diperkirakan bahwa peninggalan tersebut dari jaman Erlangga (Kediri). Reruntuhan tersebut oleh masyarakat sekitar dikenal dengan nama Dadung Awuk. Ditempat lain juga terdapat peninggalan-peninggalan yang lain seperti di puncak gunung Lawu wilayah kabupaten Magetan yaitu peninggalan yang berbentuk Pawon Sewu (candi pawon) atau punden berundak yang diperkirakan sebagai hasil budaya jaman Majapahit. Demikia juga di lereng gunung Lawu terdapat peninggalan candi Sukuh dan candi Ceto. Adanya peninggalan-peninggalan tersebut sesuai dengan perkembangan di akhir kerajaan Majapahit, dimana waktu itu banyak rakyat dan kalangan keraton yang meninggalkan pusat kerajaan dan pergi ke gunung-gunung dalam usaha mempertahankan kebudayaan dan agama Hindu termasuk gunung Lawu kabupaten Magetan.
Hal ini telah disebut pula dalam babad Demak antara lain sebagai berikut : bahwa pangeran Gugur putera Brawijaya Pamungkas yang oleh masyarakat Magetan disebut sunan Lawu, bermukim diwilayah gunung Lawu yang batasnya sebelah selatan Pacitan, sebelah timur bengawan Magetan dan sebelah utara bengawan (Solo, Ngawi, Bojonegoro).
Dalam babad Tanah Jawi terdapat bait-bait sebagai berikut :
Pupuh 3 :
Anging arine raneki
Sang dipati tan purun ngalihno
Dene patedan Sang Raji
Pandji sureng raneku
Duk sang nata aneng samawis
Mangkana Kartojudo
Ing raka tinuduh
Anggetjah mantjanegoro ponorogo, madiun lan saesragi
Kaduwang ka magetan
Pupuh 5 :
Saking nagari ing Surawesti
Wus sijaga sedja magut ing prang
Mring demang Kartojudone
Ing pranaraga ngumpul
Ka Magetan kaduwung sami
Tuwin ing Jagaraga
Pepak neng Madiun
Sampun ageng barisira
Sira demang Kartojudo budal saking
Caruban saha bala
Pupuh 8 :
Sira demang Kartojudo aglis
Budal saking Madiun negara
Mring Jagaraga kersane
Dene ingkang tinuduh
Mring kaduwang mantri kekalih
Ngabehi Tambakbojo
Lawan Wirantanu
Angirid prajurit samas
Mantri kalih ing kaduwang sampun prapti
Mandek barisira
Pupuh 9 :
Nahan gantija kawuwusa
Sri Narendra gja wagunen ing galih
Denja mijarsa warta
........................................................
Pupuh 10 :
Pambalike wong Mantjanegoro
Geger tepis iring Kartosuro
.................................................
Dari tulisan tersebut diatas yang teruntai dalam bentuk tembang dandang gulo dapat diambil kesimpulan bahwa :
Pertama : Magetan benar-benar merupakan daerah Mancanegoro Mataram (daerah takluk kerajaan Mataram)
Kedua     : Magetan adalah tempat berkumpulnya prajurit Mancanegoro untuk menyerang pusat pemerintahan Mataram yang pada saat itu berada dibawah pengaruh kekuasaan kompeni belanda
Ketiga : Kekacauan terus menerus yang dialami oleh pusat pemerintahan
Kerajaan Mataram yang lazim disebut sebagai perang mahkota (didalangi oleh kompeni belanda) maka Magetan sebagai daerah mancanegoro mendapat pengaruh langsung dari perang mahkota itu. Akibat perang tersebut banyak leluhur Mataram yang wafat dan dimakamkan di daerah Magetan.

Dengan data-data tersebut diatas penting sekali bahwa warisan-warisan leluhur dan latar belakang sejarah Kabupaten Magetan itu terus dipepetri sehingga tetap mempunyai nilai, arti dan jiwa pendorong semangat demi suksesnya pembangunan yang semakin berkembang.

PROSES BERDIRINYA KABUPATEN MAGETAN

Telah kita ketahui bersama lewat buku-buku sejarah ataupun peninggalan-peninggalan sejarah itu sendiri, bahwa daerah-daerah di Indonesia pada umumnya dan termasuk pulau Jawa, pada jaman dahulu dikuasai oleh kerajaan-kerajaan besar maupun kecil. Hal ini tidak terkecuali mengenai wilayah sebelah timur gunung Lawu, yang sekarang ini kita kenal dengan nama daerah Kabupaten Magetan.
Pada buku sejarah Kabupaten Magetan telah disebutkan, bahwa kita tidak mungkin mengungkapkan sejarah Magetan tanpa mengemukakan masalah kerajaan terdekat yang berkuasa serta masalah-masalah VOC atau kompeni Belanda. Berikut peristiwa-peristiwa yang berhubungan dengan lahirnya Kabupaten Magetan :
  1. Wafatnya Sultan Agung Hanyokrokusumo pada tahun 1645 merupakan tonggak sejarah mulai surutnya kejayaan kerajaan Mataram. Beliau sangat gigih melawan VOC, sedangkan penggantinya ialah Sultan Amangkurat I yang menduduki tahta kerajaan Mataram pada tahun 1646-1677 dimana sikapnya yang lemah terhadap VOC atau kompeni Belanda.
  2. Pada tahun 1646 Sultan Amangkurat I mengadakan perjanjian dengan VOC, sehingga VOC dapat memperkuat diri karena bebas dari serangan Mataram, bahkan pengaruh VOC dapat leluasa masuk Mataram. Kerajaan Mataram menjadi semakin lemah, pelayaran perdagangan menjadi dibatasi tidak diperbolehkan melakukan pelayaran ke pulau Banda, Ambon dan Ternate. Peristiwa tersebut menyebabkan tumbuhnya tanggapan yang negatif terhadap Sultan Amangkurat I di kalangan keraton, terutama pihak oposisi, termasuk putranya sendiri yaitu Adipati Anom yang kelak bergelar Amangkurat II. Kejadian-kejadian di pusat pemerintahan Mataram selalu diikuti oleh daerah Mancanegara, sehingga pangeran Giri yang sangat berpengaruh di daerah pesisir utara pulau Jawa mulai bersiap-siap melepaskan diri dari kekuasaan Mataram. Pada masa itu seorang pangeran dari Madura yang bernama Trunojoyo sangat kecewa pada pamannya yang bernama pangeran Cakraningrat II kerena terlalu mengabaikan Madura dan hanya bersenang-senang di pusat pemerintahan Mataram. Trunojoyo melancarkan pemberontakan terhadap Mataram pada tahun 1674.
  3. Dalam suasana seperti itu kerabat keraton Mataram yang bernama Basah Bibit atau Basah Gondokusumo dan patih Mataram yang bernama pangeran Nrang Kusumo dituduh bersekutu dengan para ulama yang beroposisi dan menentang kebijaksanaan Sultan Amangkurat I. Atas tuduhan tersebut Basah Gondokusumo diasingkan ke Gedong Kuning Semarang selama 40 hari ditempat kediaman Kakek beliau yang bernama Basah Suryaningrat. Patih Nrang Kusumo meletakkan jabatan dan pergi bertapa ke daerah sebelah timur gunung Lawu. Beliau diganti oleh adiknya yang bernama Pangeran Nrang Boyo II. Keduanya ini putra patih Nrang Boyo (Kanjeng Gusti Susuhunan Giri IV Mataram).
  4. Dalam pengasingan tersebut Basah Gondokusumo mendapat nasehat dari kakeknya, yaitu Basah Suryaningrat dan kemudian beliau berdua menyingkir ke daerah sebelah timur gunung Lawu. Beliau berdua memilih tempat ini karena menerima berita bahwa di sebelah timur gunung Lawu sedang diadakan babad hutan. Babad hutan ini dilaksanakan oleh seorang yang bernama Ki Buyut Suro, yang kemudian bergelar Ki Ageng Getas. Pelaksanaan babad hutan ini atas dasar perintah Ki Ageng Mageti sebagai cikal bakal daerah tersebut.
  5. Untuk mendapatkan sebidang tanah untuk bermukim di sebelah timur gunung Lawu itu, Basah Suryaningrat dan Basah Gondokusumo menemui Ki Ageng Mageti di tempat kediamannya yaitu dukuh Gandong Kidul (Gandong Selatan), tempatnya di sekitar alun-alun kota Magetan dengan perantaraan Ki Ageng Getas. Hasil dari pertemuan ini Basah Suryaningrat diberi sebidang tanah disebelah utara sungai gandong, tepatnya di desa Tambran Kecamatan kota Magetan sekarang. Peristiwa ini terjadi setelah melalui suatu perdebatan yang sengit antara Ki Ageng Mageti dengan Basah Suryaningrat. Lewat perdebatan ini Ki Ageng Mageti mengetahui bahwa Basah Suryaningrat bukan saja kerabat keraton Mataram, melainkan sesepuh Mataram yang memerlukan pengayoman. Karena itu akhirnya Ki Ageng Mageti mempersembahkan seluruh tanah miliknya sebagai bukti kesetiannya terhadap Mataram. Setelah Basah Suryaningrat menerima tanah persembahan dari Ki Ageng Mageti itu sekaligus mewisuda cucunya yaitu Basah Gondokusumo menjadi penguasa di tempat baru itu dengan gelar Yosonegoro yang kemudian dikenal sebagai Bupati Yosonegoro. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 12 Oktober 1675. Basah Suryaningrat dan Basah Gondokusumo merasa sangat besar hatinya, karena telah mendapatkan persembahan tanah yang berwujud suatu wilayah yang cukup luas dan penuh dengan perhitungan strategis, juga mendapatkan sahabat yang dapat diandalkan kesetiannya, yaitu Ki Ageng Mageti. Itulah sebabnya tanah baru ini diberi nama Magetan.